Pages

Senin, 18 Februari 2013

Problem Based Learning


Author : istiqomah Ep
Perkuliahan : Dasar-dasar proses pembelajaran

BAB I
PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang
Selama ini pembelajaran yang berlangsung lebih terpusat kepada guru. Siswa menjadi sangat tergantung kepada guru dan tidak terbiasa mencari alternatif penyelesaian masalah lain yang tidak disampaikan oleh guru. Materi pembelajaran cukup dihapalkan saja tanpa mempelajari lebih lanjut makna dan bentuk pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut kurang sesuai dengan pembelajaran yang kontekstual. Kontekstual adalah pembelajaran yang menghubungkan materi pelajaran dengan dunia nyata dan memotivasi siswa agar menghubungkan pengetahuan dan terpannya dengan kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

Salah satu pendekatan pembelajaran kontekstual adalah dengan pembelajaran yang berbasis proyek (Project based learning). Dalam pembelajaran yang berbasis proyek, siswa akan dihadapkan pada permasalahan yang memerlukan kreativitas dalam pemecahannya dan diharapkan mampu menerapkan pengetahuan yang telah dimiliki dalam menyelesaikan masalah.

Dalam makalah ini akan dibahas mengenai pembelajaran berbasis proyek tersebut sebagai salah satu bentuk pembelajaran kontekstual yang melibatkan peran peserta didik dalam proses pembelajaran.

B.       Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan pembelajaran berbasis proyek?
2.      Bagaimana proses pembelajaran berbasis proyek?
3.      Apa perbedaan pembelajaran berbasis proyek dengan pembelajaran tradisional?
4.      Bagaimana kegiatan pengajar dan pelajar dalam pembelajaran berbasis proyek?
5.      Apa kelebihan dan kekurangan pembelajaran berbasis proyek?

C.      Tujuan
1.         Mengetahui pengertian pembelajaran berbasis proyek.
2.         Mengetahui proses pembelajaran berbasis proyek.
3.         Mengetahui perbedaan pembelajaran berbasis proyek dengan pembelajaran tradisional.
4.         Mengetahui kegiatan pengajar dan pelajar dalam pembelajaran berbasis proyek.
5.         Mengetahui kelebihan dan kekurangan pembelajaran berbasis proyek?



BAB II
PROJECT BASED LEARNING


A.      Pengertian Project based learning
PBL (Project based learning/Pembelajaran Berbasis Proyek) merupakan metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata. PBL dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan pelajar dalam melakukan investigasi dan memahaminya.

Berikut pengertian PBL menurut beberapa ahli.
1.         PBL adalah metode pengajaran sistematik yang mengikutsertakan pelajar ke dalam pembelajaran pengetahuan dan keahlian yang kompleks, pertanyaan authentic dan perancangan produk dan tugas [University of Nottingham, 2003].
2.         PBL adalah pendekatan cara pembelajaran secara konstruktif untuk pendalaman pembelajaran dengan pendekatan berbasis riset terhadap permasalahan dan pertanyaan yang berbobot, nyata dan relevan bagi kehidupannya [Barron, B. 1998, Wikipedia].
3.         PBL adalah pendekatan komprehensif untuk pengajaran dan pembelajaran yang dirancang agar pelajar melakukan riset terhadap permasalahan nyata. [Blumenfeld et Al. 1991].
4.         PBL adalah cara yang konstruktif dalam pembelajaran menggunakan permasalahan sebagai stimulus dan berfokus kepada aktivitas pelajar. [Boud & Felleti, 1991].

Metode ini memiliki kecocokan terhadap konsep inovasi pendidikan bidang keteknikan, terutama dalam hal sebagai berikut :
1.         pelajar memperoleh pengetahuan dasar (basic sciences) yang berguna untuk memecahkan masalah bidang keteknikan yang dijumpainya,
2.         pelajar belajar secara aktif dan mandiri dengan sajian materi terintegrasi dan relevan dengan kenyataan sebenarnya, yang sering disebut student-centered,
3.         pelajar mampu berpikir kritis, dan mengembangkan inisiatif.

Ada tiga kategori umum penerapan proyek untuk pelajar, yakni mengembangkan keterampilan, meneliti permasalahan, dan menciptakan solusi. Kreativitas dari suatu proyek membantu perkembangan pertumbuhan individu.

Pada model PBL, pelajar dilibatkan dalam memecahkan permasalahan yang ditugaskan, mengizinkan para pelajar untuk aktif membangun dan mengatur pembelajarannya, dan dapat menjadikan pelajar yang realistis. Pendekatan ini mengacu pada hal-hal sebagai berikut.
1.      Kurikulum
PBL tidak seperti pada kurikulum tradisional, karena memerlukan suatu strategi sasaran di mana proyek sebagai pusat.
2.      Responsibility
PBL menekankan responsibility dan answerability para pelajar ke diri dan panutannya.
3.      Realisme
Kegiatan pelajar difokuskan pada pekerjaan yang serupa dengan situasi yang sebenarnya. Aktivitas ini mengintegrasikan tugas otentik dan menghasilkan sikap profesional.
4.      Active-learning
Menumbuhkan isu yang berujung pada pertanyaan dan keinginan pelajar untuk menemukan jawaban yang relevan, sehingga dengan demikian telah terjadi proses pembelajaran yang mandiri.
5.      Umpan Balik
Diskusi, presentasi, dan evaluasi terhadap para pelajar menghasilkan umpan balik yang berharga. Ini mendorong kearah pembelajaran berdasarkan pengalaman.
6.      Keterampilan Umum
PBL dikembangkan tidak hanya pada ketrampilan pokok dan pengetahuan saja, tetapi juga mempunyai pengaruh besar pada keterampilan yang mendasar seperti pemecahan masalah, kerja kelompok, dan self-management.
7.      Driving Questions
PBL difokuskan pada pertanyaan atau permasalahan yang memicu pelajar untuk berbuat menyelesaikan permasalahan dengan konsep, prinsip dan ilmu pengetahuan yang sesuai.
8.      Constructive Investigations
Sebagai titik pusat, proyek harus disesuaikan dengan pengetahuan para pelajar.
9.      Autonomy
Proyek menjadikan aktivitas pelajar sangat penting.

B.       Prinsip Dan Tujuan Project Base Learning
1.         Siswa dituntut bertanggung jawab atas pendidikan yang mereka jalani, serta diarahkan untuk tidak terlalu tergantung pada guru
2.         Membentuk siswa mandiri yang dapat melanjutkan proses belajar pada kehidupan dan karir yang akan mereka jalani
3.         Guru lebih berperan sebagai fasilitator atau tutor yang memandu siswa menjalani proses pendidikan
4.         Memberi tantangan pada siswa untuk lebih mengembangkan ketrampilan berpikir kritis dan mampu meyelesaikan masalah secara efektif
5.         Proses belajar dibentuk dari ketidakteraturan dan kompleksnya masalah, hal tersebut digunakan sebagai pendorong bagi siswa untuk belajar mengintegrasikan dan mengorganisasi informasi yang didapat sehingga nantinya dapat selalu diingat dan diaplikasikan untuk menyelesaikan masalah yang akan dihadapi.

C.      Proses Project Base Learning
1.         Siswa dihadapkan pada masalah dan mencoba untuk menyelesaikan dengan bekal pengetauan yang mereka miliki.
2.         Mengidentifikasi apa yang harus dipelajari untuk memahami lebih baik permasalahan dan bagaimana cara memecahkannya.
3.         Mencari informasi dari berbagai sumber seperti buku, jurnal, laporan, informasi online atau bertanya pada pakar yang sesuai dengan bidangnya. Melalui cara ini, belajar dipersonalisasi sesuai dengan kebutuhan dan gaya hidup tiap individu.
4.         Setelah mendapatkan informasi, mereka kembali pada masalah dan mengaplikasikan apa yang telah mereka pelajari untuk memahami dan menyelesaikannya.
5.         Di akhir proses, siswa melakukan penilaian terhadap dirinya dan memberi kritik bagi teman-temannya.

D.      Pendekatan PBL
Pendekatan PBL adalah penggunaan proyek sebagai metode pengajaran/pembelajaran. Para pelajar bekerja secara nyata, seolah-olah ada di dunia nyata yang dapat menghasilkan produk secara realistis. Prinsip yang mendasari adalah bahwa dengan aktivitas kompleks ini, kebanyakan proses pembelajaran yang terjadi tidak tersusun dengan baik. Alternatif penggunaan PBL adalah sesuatu yang sangat berbeda. Dari pengalaman terdapat dua dimensi untuk menggolongkan alternatif PBL, yaitu penyelesaian tugas dan pembelajaran pengetahuan yang pokok serta manajemen proyek dan pembelajaran ketrampilan secara umum. Aktivitas para pengajar dan para pelajar bertukar-tukar tergantung pada derajat tingkat kendali yang diberikan kepada para pelajar dalam kedua dimensi.

E.       Peran Pengajar dalam PBL
Selama berlangsungnya proses belajar dalam PBL pelajar akan mendapat bimbingan dari narasumber atau fasilitator, tergantung dari tahapan kegiatan yang dijalankan.
1.      Narasumber
a.       Menyusun trigger problems.
b.      Sebagai sumber pembelajaran untuk informasi yang tidak ditemukan dalam sumber pembelajaran bahan cetak atau elektronik.
c.       Melakukan evaluasi hasil pembelajaran.

2.      Fasilitator
Secara umum peran fasilitator adalah memantau dan mendorong kelancaran kerja kelompok, serta melakukan evaluasi terhadap efektifitas proses belajar kelompok. Secara lebih rinci peran fasilitator adalah sebagai berikut.
a.       Mengatur kelompok dan menciptakan suasana yang nyaman.
b.      Memastikan bahwa sebelum mulai setiap kelompok telah memiliki seorang anggota yang bertugas membaca materi, sementara teman-temannya mendengarkan, dan seorang anggota yang bertugas mencatat informasi yang penting sepanjang jalannya diskusi.
c.       Memberikan materi atau informasi pada saat yang tepat, sesuai dengan perkembangan kelompok.
d.      Memastikan bahwa setiap sesi diskusi kelompok diakhiri dengan self-evaluation.
e.       Menjaga agar kelompok terus memusatkan perhatian pada pencapaian tujuan.
f.       Memonitor jalannya diskusi dan membuat catatan tentang berbagai masalah yang muncul dalam proses belajar, serta menjaga agar proses belajar terus berlangsung, agar tidak ada tahapan dalam proses belajar yang dilewati atau diabaikan dan agar setiap tahapan dilakukan dalam urutan yang tepat.
g.      Menjaga motivasi pelajar dengan mempertahankan unsur tantangan dalam penyelesaian tugas dan juga memberikan pengarahan untuk mendorong pelajar keluar dari kesulitannya.
h.      Membimbing proses belajar pelajar dengan mengajukan pertanyaan yang tepat pada saat yang tepat. Pertanyaan ini hendaknya merupakan pertanyaan terbuka yang mendorong pelajar mencari pemahaman yang lebih mendalam tentang berbagai konsep, ide, penjelasan, sudut pandang, dan lain-lain.
i.        Mengevaluasi kegiatan belajar pelajar, termasuk partisipasinya dalam proses kelompok. Pengajar perlu memastikan bahwa setiap pelajar terlibat dalam proses kelompok dan berbagi pemikiran dan pandangan.
j.        Mengevaluasi penerapan PBL yang telah dilakukan.

F.       Kegiatan Pengajar dalam Pendekatan PBL
Dalam PBL, instruksi terjadi melalui pelatihan, diskusi, bimbingan, dan lain-lain. Bagian ini sebagai aktivitas pengajar dalam pendekatan PBL.
1.         Desain Proyek.
Tahap desain proyek adalah sangat pokok. Perancangan yang salah dari aktivitas proyek akan menyebabkan dampak yang tidak baik pada proses belajar pelajar. Pengajar menggambarkan isi, mengatur pertanyaan, hasil pembelajaran, material pendukungan, dan strategi penilaian. Proyek yang baik adalah yang cocok untuk lintas disiplin. Proyek pada umumnya dibuat berdasarkan kurikulum baku. Sebagai  konsekuensinya, desain memerlukan sampling kurikulum yang ada dan mengkombinasikan unsur-unsur instruksi dari berbagai disiplin ilmu.

2.         Hasil pembelajaran (learning outcomes)
Definisi sasaran dan objektifitas pengukuran hasil pengajaran sangat diperlukan. Para pengajar harus menandai pengetahuan pokok dan ketrampilan yang akan diperoleh pelajar. Juga menguraikan keterampilan umum yang ditargetkan oleh proyek. Sasaran hasil pembelajaran harus dipetakan ke aktivitas  proyek.

3.         Titik Fokus (focal points)
Untuk memotivasi pelajar dan memperoleh keterlibatannya secara penuh, proyek harus dibuat menantang dan berhubungan dengan permasalahan hidup nyata. Pengajar harus menentukan dan mengatur pertanyaan yang akan dihadapi pelajar dan mendorong pelajar untuk menyelesaikan permasalahan.

4.         Aktivitas  & deliverables
PBL harus melibatkan para pelajar di dalam aktivitas  yang realistis. Tahap desain menentukan aktivitas  seperti penyelidikan, riset, pemecahan masalah, penggunaan alat bantu, dan lain-lain.

5.         Metode
Pengajar juga menentukan cara untuk menerapkan proyek organisasi kelas dan kelompok, pelatihan, dan material pendukung, serta prosedur umpan balik, sumber daya, dan lain-lain.

6.         Monitoring dan pengendalian.
Setelah menyelesaikan perencanaan proyek dan sebelum menjalankan kegiatan pelajar, pengajar harus mengorganisir kelas, membentuk kelompok, mengorganisir material, menugaskan pekerjaan, mengorganisir pelatihan, dan jadwal aktivitas . Setelah proyek diberikan dan ketika pelajar melaksanakan tugas proyek, pengajar harus memonitor kemajuan, mengkoordinir aktivitas , dan menyediakan sumber daya yang diperlukan. Pengajar harus mengakses dokumen dan melayani pelajar secara individu dan kelompok. Pengajar juga harus memonitor kerja kelompok dan bila terjadi konflik inter-personal, segera menyelesaikannya.
7.         Support
Di dalam model PBL instruksi yang terjadi kebanyakan secara tidak langsung. Pengajar dapat memulai dengan instruksi langsung terbatas pada hal-hal yang dasar. Pengajar menyiapkan dan menyediakan selebaran tugas, seperti selebaran penjelasan metodologi, petunjuk, atau petunjuk penggunaan. Juga menyediakan akses kepada material pelajaran dan sumber yang lain, seperti catatan ceramah kuliah, pembicaraan video-taped dan proses; melakukan latihan di tempat kerja dan membuat demonstrasi jika dibutuhkan. Selain itu mengorganisir pembicaraan dan seminar sekitar isu kompleks dengan mengundang tenaga ahli atau para profesional. Instruksi juga terjadi melalui pelatihan. Pelajar senior dapat membimbing ke tingkat yang lebih rendah, serta dapat membantu mengorganisir pekerjaan, keputusan struktur, memecahkan permasalahan dan pengoperasian perangkat.
8.         Penilaian
Penilaian harus disatukan ke dalam aktivitas  proyek. Karena PBL dititik beratkan pada keberhasilan pelajar, evaluasi diri dan oleh tim ahli harus dimasukkan ke dalam strategi penilaian.
9.         Umpan balik
Pengalaman dari implementasi PBL menjadi sesuatu yang berharga, yang memberikan kesempatan untuk melakukan peningkatan kemampuan. Pelajar  dan pengajar dapat menyediakan umpan balik mengenai perencanaan, organisasi, support, dan penilaian proyek. Umpan balik adalah sesuatu yang pokok dalam PBL. Umpan balik dapat dimulai dari para pengajar, pelatih, ahli, klien, dan lain-lain. Presentasi dan diskusi adalah sarana yang baik untuk menjadi umpan balik. Para pengajar harus mengorganisir prosedur umpan balik.

G.      Kegiatan Pelajar dalam Pendekatan PBL
Di dalam PBL, pelajar bekerja bersama tugas yang diberikan pengajar agar aktif. Pelajar dapat bekerja secara individu maupun kelompok. Dalam banyak kasus, pelajar mengerjakan proyek secara bersamaan di dalam kelompok kecil. Terdapat dua jenis kelompok, yakni kelompok off-campus dan kelompok on-campus. Kebutuhan dua jenis kelompok ini sedikit berbeda. Pelajar dalam kelompok on-campus dapat bertemu secara fisik, tidak memerlukan alat bantu komunikasi canggih, tetapi memerlukan koordinasi kerja (perencanaan, penjadwalan, dan lain-lain). Pelajar di dalam suatu kelompok off-campus memerlukan komunikasi luas untuk mengerjakan tugas secara kolaboratif. Oleh karena itu, pelajar memerlukan fasilitas synchronous dan asynchronous sebagai tambahan terhadap koordinasi kerja. Kegiatan pelajar dapat dikelompokkan tiga kategori aktivitas  individu, aktivitas  dalam kelompok, dan aktivitas  antar-kelompok. Aktivitas  di dalam kategori yang ketiga ini dilaksanakan oleh individu atau kelompok pelajar.
1.      Secara Individual
Setiap individu pelajar mempunyai kebutuhan yang tidak perlu sama dalam suatu kelompok. Tiap-tiap pelajar mempunyai kemampuan yang berbeda, pendekatan belajar, dan penyelesaian tugas. Selama mengerjakan proyek, tiap pelajar melaksanakan aktivitas  seperti :
a.       memvisualisasikan aktivitas  proyek dan mencari tugas yang akan dikerjakan,
b.      mengatur jadwal,
c.       mengorganisir materi pembelajaran,
d.      menata dokumen (computer-files),
e.       mengirimkan pesan kepada pengajar atau ahli,
f.       self assessment.
Para pelajar dapat memberikan kontribusi terhadap proyek yang berbeda secara simultan.
2.      Di dalam Kelompok
Ketika seseorang bekerja di dalam kelompok, para pelajar harus bekerja sama. Kerja sama berlangsung dalam wujud aktivitas  dasar seperti :
a.       brainstorming,
b.      diskusi,
c.       melakukan editing dokumen secara bersama-sama,
d.      Sinkronisasi komunikasi lewat audio, video, atau text,
e.       menata dokumen kelompok,
f.       task scheduling,
g.      peer assessment.
Sebagian dari aktivitas  ini dapat dilakukan bersama kelompok on-campus tanpa perangkat spesifik. Sedangkan para pelajar dalam kelompok off-campus didukung oleh perangkat yang memadai.
3.      Antar Kelompok
Di dalam PBL, para pelajar menyelesaikan aktivitas  lain dalam bentuk berbagi informasi dan pengetahuan dengan kelompok lain. Contoh aktivitas  ini adalah :
a.       presentasi,
b.      peer reviews,
c.       memberikan kontribusi pada forum diskusi.

 

H.      Perbedaan Kelas PBL dengan Lingkungan Kelas Tradisional
Di dalam kelas tradisional pelajar dikondisikan untuk mendengarkan, menghafal dan belajar termasuk mengajukan pertanyaan. Menghafalkan fakta dan informasi sebenarnya bukan cara untuk belajar tetapi ini biasa dilakukan di suatu kelas tradisional. Sehingga lebih penting mengetahui bagaimana cara memproses informasi dibanding hanya mengetahui fakta yang nyata.

Perbedaan kelas PBL dengan Lingkungan Kelas Tradisional.
No.
Aspek
Tradisional
PBL
1.     
Kurikulum
·   Mengacu pada kurikulum yang baku
·   Cakupan materi yang lebar
·   Menghafal materi tanpa berpikir fakta
·   Jangka panjang, interdisciplinary, pelajar sebagai pusat perhatian dalam menyimak isu dunia nyata yang menarik perhatian pelajar
·   Adanya investigasi dan riset yang mendalam
·   Memahami proses, mendorong kemampuan berpikir kritis dan menghasilkan penemuan
2.     
Kelas
·   Pengajaran dilakukan dengan penempatan pelajar pada tempat duduk yang rapih dan kaku dalam format baris dan kolom.
·   Berupaya merangkul semua orang bersama-sama, belajar di langkah dan bobot yang sama
·   Berusaha secara individu untuk mencapai target
·   Pelajar duduk secara fleksibel, santai dan berkolaborasi di dalam tim.
·   Petunjuk pembelajaran fleksibel, banyak perbedaan tingkat dan topik yang dipelajari oleh tiap pelajar
·   Mendorong pelajar bekerja dalam tim yang heterogen untuk mencapai target
3.     
Pengajar
·   Pengajar sebagai pemberi ceramah/ narasumber dan tenaga ahli.
·   Pengajar sebagai fasilitator dan menyediakan sumber daya
4.     
Pelajar
·   Pelajar bergantung kepada pengajar dalam menyelesaikan intruksi
·   Pelajar bertanggung jawab atas diri sendiri, menggambarkan tugasnya sendiri dan bekerja sebagai anggota suatu tim untuk waktu tertentu dengan suatu target
·   Pengajar berfungsi sebagai pemandu
5.     
Teknologi
·   Memberikan reward bagi yang menyelesaikan tugas dan sebaliknya memberikan hukuman bagi yang tidak menguasai konsep
·   Menggunakan alat yang terintegrasi dalam semua aspek kelas, seperti dalam pemecahan masalah, komunikasi, meneliti hasil, dan mengumpulkan informasi.
Di dalam kelas PBL gaya kelas juga berubah. Lingkungan kelas tidak lagi diatur oleh pelajaran yang kaku, tetapi dikuasai oleh pelajaran yang saling behubungan dan membantu para pelajar mengembangkan keterampilannya sesuai tujuan pembelajaran, kemudian mengizinkan pelajar menggunakan keterampilan itu untuk memecahkan masalah. PBL dapat terintegrasi ke dalam kelas dari semua pokok pembelajaran.

 

I.         Kelebihan dan Kekurangan PBL
PBL adalah suatu pendekatan komprehensif yang memberikan petunjuk bagi pelajar, bekerja secara individu atau kelompok, dan berhubungan dengan topik di dunia nyata. Penerapan PBL yang baik dapat memberikan kemampuan yang bermanfaat bagi pelajar. Keberhasilan PBL terjadi ketika pelajar mendapatkan motivasi yang tinggi,  merasa aktif dalam pembelajarannya, dan menghasilkan hasil kerja berkualitas tinggi.

Berikut beberapa kelebihan pendekatan PBL.
1.      PBL dapat memotivasi pelajar dengan melibatkannya di dalam pembelajarannya, membiarkan sesuai minatnya, menjawab pertanyaan dan untuk membuat keputusan dalam proses belajar.
2.      PBL menyediakan kesempatan pembelajaran berbagai disiplin ilmu. PBL membantu keterkaitan hidup di luar  sekolah, memperhatikan dunia nyata, dan mengembangkan ketrampilan nyata.
3.      PBL menyediakan peluang unik karena pengajar membangun hubungan dengan pelajar, sebagai pelatih, fasilitator, dan co-learner.
4.      PBL menyediakan kesempatan untuk membangun hubungan dengan komunitas yang besar.
Adapun beberapa kekurangan metode PBL adalah sebagai berikut.
1.         PBL memerlukan banyak waktu yang harus disediakan untuk menyelesaikan permasalahan yang kompleks.
2.         Banyak orang tua peserta didik yang merasa dirugikan, karena menambah biaya untuk memasuki sistem baru.
3.         Banyak pengajar merasa nyaman dengan kelas tradisional , dimana pengajar memegang peran utama di kelas. Ini merupakan suatu transisi yang sulit, terutama bagi pengajar yang kurang atau tidak menguasai teknologi.
4.         Banyaknya peralatan yang harus disediakan.


BAB III
PENUTUP


A.      Kesimpulan
Pembelajaran berbasis proyek adalah pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata. Penerapan pembelajaran berbasis proyek untuk pelajar memiliki kategori, yakni mengembangkan keterampilan, meneliti permasalahan, dan menciptakan solusi. Pada pembelajaran berbasis proyek siswa dituntuk aktif dan mampu menciptakan alternatif penyelesaian dari masalah yang diajukan.

B.       Saran
Pembelajaran berbasis proyek dapat dijadikan alternatif pelaksanaan pembelajaran yang menuntut keaktifan siswa. Pembelajaran ini juga dapat membantu siswa untuk berpikir kreatif sehingga baik untuk diterapkan dalam proses pembelajaran. Namun, dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek juga harus memperhatikan kemampuan siswa dalam melaksanakan proyek, karena membutuhkan waktu dan biaya yang lebih banyak jika dibandingkan dengan pembelajaran tradisional.


DAFTAR PUSTAKA


http://choymaster.blogspot.com/
http://teichno.com/
http://yudipurnawan.wordpress.com/

0 komentar:

Poskan Komentar